Marhaban Ya Ramadhan ( Selamat Datang Bulan Ramadhan ) mungkin begitulah cerita ini dimulai. Di bulan suci dimana umat Islam di dunia selalu menantikan hal-hal terbaik yang selalu diharapkan menjadi tempat bersujud memohon ampunan karena bulan suci Ramadhan bulan penuh ampunan dan bulan penuh keberkahan. Mungkin ini kesempatan aku untuk memohon ampunan sekaligus di bulan suci ini aku berharap hidayah dan petunjuk untuk mendapatkan seorang yang aku impikan selama ini. Vina orang selalu aku sayangi sampai kapanpun dan dimanapun aku berada. Mungkin orang berpikir aku ini sudah gila, gila dengan seorang gadis yang tidak pernah bisa sayang sama aku. Tapi keyakinanku tidak pernah padam meskipun semua yang telah terjadi sama aku. Vina sebenarnya gadis manis yang selalu membayangi kehidupanku dan tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Vina sendiri sekarang sudah dewasa dia sebenarnya sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia juga sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri.
4 September 2009 adalah hari yang terindah untuk Vina karena pertama kalinya dia bekerja. Setelah tiga bulan dia harus menunggu untuk dipanggil di Panasonic tempat dimana dulu aku bekerja. Walaupun planning kontraknya hanya empat bulan tapi sepertinya dia bahagia dan mungkin tidak menutup kemungkinan dia bisa diperpanjang. Sikapnya sama aku baik malah dia kita sering bercanda bersama. Mungkin secercah harapan muncul disini. Walaupun dia hanya menganggap aku sebagai kakak tidak lebih. Tapi di tengah keceriaan ini ujian hidup kembali harus aku jalani. Kakaknya Vina, Dhymek yang juga temanku berselisih paham denganku. Masalahnya sebenarnya sepele hanya karena pekerjaan dan semuanya menjadi besar. Kakaknya yang dulu perhatian sama aku tiba-tiba berubah seakan tak pernah peduli sama aku.
Tak terasa hampir satu bulan puasa semua keadaan juga sudah mulai berubah masalahku dengan kakaknya Vina juga sudah selesai. Kumandang takbir bergema dimana-mana hatiku terasa menangis mendengarnya. Alhamdulilah satu bulan puasa dapat aku jalani meskipun ibadahku masih belum sempurna tapi aku bersyukur Allah SWT masih memberi aku kekuatan untuk menjalani kehidupanku ini. Aku juga sudah merasa lega karena aku sudah minta maaf sama Vina. Yang paling aku syukuri adalah usahaku di OXY mulai ada hasil dalan kurun waktu hanya satu bulan saja. Semua sudah diatur dan pasti semua usaha kita akan mendapatkan hasilnya.
Kehidupanku tak ada perubahan yang berarti semua berjalan seperti biasa seperti sebelum-sebelumnya tapi aku tetap berdoa semoga semua yang telah aku lakukan selama ini mendapatkan hasilnya. Hidup memang sulit ditebak kapan kita senang kapan kita susah semua seperti roda yang terus berputar kapanpun itu.
Hari-hari aku lewati dengan apa adanya hingga suatu hari masalah pun kembali harus aku hadapi. Semuanya berawal dari Vina yang sering mengeluh karena diganggu nomer-nomer baru. Aku pun berusaha mencari tahu siapa saja mereka. Tanpa berpikir panjang aku minta bantuan teman-temanku cewek dan dalam sekejap pun aku tahu siapa saja mereka. Aku berusaha untuk mengorek informasi mereka dan mereka mengaku teman-temannya Vina dari SMP dan SMK. Aku pun berusaha memberitahu mereka baik-baik. Diluar dugaanku mereka menanyakan semua itu sama Vina. Vina marah sama aku dan aku berusaha menjelaskan semuanya sama dia. Dia pun mengerti maksudku baik dan aku juga janji sama dia akan minta maaf sama teman-temannya. Tapi ternyata masalah itu belum selesai dan salah satu temannya memperkeruh suasana hingga Vina kembali meminta penjelasanku dan aku berusaha meyakinkan dia kalau aku tidak bicara macam-macam tentang dia. Aku sudah bicara apa adanya sama dia dan aku berusaha untuk meyakinkan dia. Tapi dia lebih percaya teman-temannya daripada aku. Aku sedih sekali ternyata sulit untuk meyakinkan seseorang yang kita sayangi apalagi di depan teman-temannya.
Ternyata masalah ini bukan sepele dan berbuntut panjang. Aku kembali harus menghadapi masalah yang sama untuk kedua kalinya. Aku dan Vina kembali membicarakan tentang perasaan kami berdua. Vina menegaskan kalau dia masih menganggap aku sebagai kakaknya tidak lebih. Selama ini dia merasa tertekan dengan kehadiranku disisinya dan dia sudah mencoba berbuat sebisa dia tapi karena tekanan dari orang tuanya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Aku pun bingung harus berbuat apa dan aku pun memutuskan untuk meminta saran saudara-saudaranya. Vanya kakak perempuannya, Ani kakak iparnya dan Dhymek kakak laki-lakinya. Ditengah kekalutan pikiranku Mbak Ani menyarankan aku tidak begitu saja pergi dari kehidupan Vina tapi dengan perlahan sedikit demi sedikit, sementara Mas Dhymek menyarankan agar aku menunggu kepastian dari Vina dan Mas Dhymek akan berusaha membantuku menyelesaikan masalah ini dengan syarat aku harus bisa menerima bila nanti ternyata Vina memang benar-benar tidak ada perasaan sama aku. Mungkin saat itulah masa depanku dengan Vina ditentukan dan mungkin masalahku juga bisa terselesaikan.
23 November 2009, pukul 05.44 wib. Hpq berbunyi dan aku terbangun aku lihat ada sms masuk. Perlahan aku buka ternyata sms itu dari Vina. Aku baca sms itu “ Sebelumnya makasih banget atas semua yang udah kamu lakuin dan korbanin buatku, kamu gak kekurangan apapun kok, tapi maaf banget aku gak bisa nerima kamu dan aku cuma anggap kamu sebagai kakakku, aku harap kamu mengerti, maaf banget ya ” kata yang membuat aku terbangun dari tidurku dan mungkin itu jawaban atas semua masalahku selama ini tentang perasaan Vina sama aku. Aku menyalakan komputerku kudengarkan lagu pupus dari Dewa dan air mataku mengalir tak tertahankan. Aku rasakan sakit yang cukup dalam dari hatiku yang paling dalam. Aku tak peduli lagi orang bilang aku cengeng atau apapun itu yang penting semuanya bisa melegakan hatiku. Mengapa semua harus berakhir seperti ini? Cerita cintaku yang harus berakhir dengan akhir yang menyedihkan.
Inilah kisahku yang harus berakhir dengan kesedihan dan semoga ini bisa dijadikan pelajaran buat para pejuang cinta dimanapun di dunia ini. Cinta takkan pernah bisa mati tapi akan tetap hidup pada diri manusia itu sendiri. Tamat