Sabtu, 29 Agustus 2009

My Story Love


STORY LOVE
(By : Asrul Kurniawan)


Cerita ini berawal di pertengahan tahun 2004. Ketika itu aku berumur 16 tahun dan masih kelas 2 SMA. Waktu itu aku baru putus dengan pacarku. Hari-hari yang aku jalani begitu membosankan membuat aku jadi malas untuk melakukan sesuatu. Mungkin tidak sepenuhnya semua itu membosankan mungkin karena kegemaranku mendengarkan radio membuat aku mengalihkan semua yang telah terjadi. Aku yang mudah bergaul dengan teman seakan memberikan angin segar. Mungkin tidak semua temanku baik sama aku ada juga yang menusuk aku dari belakang. Tapi sudahlah itu semua sudah aku selesaikan dengan melepaskan kekasih hatiku buat teman aku sendiri. Mungkin menyakitkan buatku. Karena kegemaranku mendengarkan radio aku diperkenalkan dengan cewek oleh temanku Rendy. Dia temanku yang masih sekolah SMP. Aku pun dikenalkan dengan cewek cantik namanya Vanya dan masih sekolah kelas 2 SMP. Aku terus menanyakan sama Rendy dimana rumahnya tapi selalu saja Rendy enggan memberitahuku.
Sampai suatu saat Rendy mengajakku ke rumah Vanya. Kami ditemui oleh Ibunya aku sempat agak takut sama Ayahnya. Tapi keluwesan aku sama Ibunya menarik simpati Ibunya. Kami pun ngobrol dengan santainya seakan-akan kami sudah pernah kesitu sebelumnya. Ditengah-tengah pembicaraan kami muncullah seorang gadis manis dengan tersenyum tersipu malu dibelakang Vanya. Aku pun berhenti sejenak dan mengalihkan perhatianku sama dia. Wajahnya sudah tidak asing buatku, aku pun bertanya sama Vanya. Ternyata dia adalah adiknya Vanya aku pun langsung ingat. Oh ya gadis ini kan yang sering aku lihat waktu aku nongkrong di jembatan. Aku sempat tidak percaya kalau dia adiknya Vanya. Vanya pun memperkenalkan aku sama adiknya, namanya Ervina tapi biasanya dipanggil Vina. Aku merasa perhatianku tertuju sama Vina. Karena asyiknya ngobrol hari sudah larut aku dan Rendy berpamitan pulang. Di perjalanan aku terus bertanya sama Rendy dan masih tidak percaya kalau Vina itu adiknya Vanya. Mereka beda banget, Vanya cantik mirip Ibunya dan Vina manis mirip Ayahnya. Setibanya di rumah aku belum bisa melupakan senyuman Vina.
Esok harinya aku ungkapkan apa yang terjadi semalam di radio. Hal itu berlanjut terus menerus hingga akhirnya aku jatuh cinta sama Vina. Aku pun sering ke rumah Vina dan beruntung sekali aku pintar matematika jadi aku bisa mendekati Vina dengan mengajarinya matematika. Aku pun punya alasan sering ke rumah Vina dan keluarganya pun tidak keberatan aku main kesitu. Perasaanku semakin tak terbendung dan akhirnya aku mengungkapkan perasaanku sama Vina. Tapi lagi-lagi aku harus merasakan kecewa yang amat dalam karena Vina menolakku. Aku tidak mau menyerah, sejak saat itu sikap Vina berubah sama aku. Aku semakin jauh sama Vina justru aku lebih dekat sama kakaknya Vanya. Vanya tahu kalau aku itu suka sama adiknya jadi dia tidak pernah berpikiran macam-macam sama aku.
Tapi ternyata hal itu salah diartikan sama Rendy. Aku baru tahu kalau Rendy suka sama Vanya. Dia mengira aku suka sama Vanya, Rendy juga bilang sama teman-temannya kalau aku telah mengkhianatinya. Mungkin kesalahpahaman ini membuat aku jauh sama Rendy. Kami pun akhirnya tidak pernah bermain bersama lagi. Aku merasa bersalah sama Rendy aku berusaha meyakinkan dia kalau aku tidak ada perasaan apa-apa sama Vanya. Tapi dia tidak percaya dan menjauhi aku.
Aku tidak putus asa cintaku tidak hanya sampai disitu. Aku terus berusaha untuk mendapatkan hati Vina walau harus berkorban nyawa sekalipun. Sampai suatu saat di pesta ulang tahunku yang ke-17 aku mengundang Vina dan teman-temannya termasuk Vanya. Di acara ultahku itu aku juga mengundang mantan-mantanku tapi mereka tidak ada yang datang. Tapi itu tidak membuat aku bersedih karena Vina datang ke pesta ultahku. Hingga tiba saat tiup lilin setelah aku meniup lilin tiba-tiba serangan telur menghampiri wajahku ternyata teman-temanku sudah mempersiapkan semua. Aku yang tidak menyangka akan seperti itu jadi kewalahan wajahku terasa sakit dan bajuku juga penuh dengan pecahan telur hingga aku pun berlari ke kamar mandi dan membersihkan sisa-sisa telur diwajahku. Setelah itu pemotongan kue pun dilakukan dan kue pertama aku tujukan untuk Vina tapi dia sempat menolak sampai akhirnya dia yang menyuapiku. Kejadian itu tidak pernah akan aku lupakan sampai kapanpun karena itu adalah hal terindah dalam hidupku.
Setelah kejadian itu aku merasa mungkin ini adalah petunjuk dari Ya Ilahi Robbi dan mungkin suatu saat nanti aku berharap Vina akan jadi pendamping hidupku. Berbagai cobaan dan ujian pun silih berganti mendera kehidupanku. Aku pun berusaha untuk sabar, berusaha dan berdoa siang-malam. Tapi ternyata tidak semudah yang aku bayangkan cobaan dan ujian itu datang terus tanpa henti.
Salah satunya ketika aku tahu kalau dia sudah punya pacar dan itu tidak membuat aku mundur. Aku berusaha cari tahu dari teman-temannya dan benar memang dia sudah punya pacar. Tapi aku tetap meyakinkan diriku bahwa semua ini tidak pernah berakhir sampai disini. Sampai suatu saat terjadi hal yang tidak mungkin aku terima begitu saja. Kejadian yang pernah terjadi pada waktu aku kelas 1 SMA dulu terulang lagi temanku sendiri Andre menghianatiku. Kejadian yang bukan baru lagi buat aku karena mungkin ini sering terjadi sama aku. Aku pun seperti merasakan bahwa ini semua tidak adil buat aku. Tapi hubungan itu tidak berlangsung lama ternyata Andre mencampakkan Vina begitu saja. Mendengar hal itu aku langsung menghampiri Andre dan nyaris saja aku menghajarnya. Tapi aku sadar aku bukan apa-apanya Vina dan aku tidak bertindak sejauh yang dibayangkan.
Satu cobaan aku lewati tapi cobaan lain datang, kali ini giliran temanku Derry yang menghianatiku. Teman yang sering aku jadikan panutan dan jadi teman curhatku dengan teganya menyakiti perasaanku. Aku pun berharap ini semua tidak seperti yang ada dipikiranku. Aku tidak mau Vina tersakiti lagi seperti sebelumnya. Aku berusaha untuk meyakinkan diriku dan berharap semua dugaanku salah. Tapi harapanku itu pudar ketika suatu hari di tempat Pemandian Alam tepatnya di Banyubiru aku melihat Vina dan Derry berduaan. Kejadian itu terjadi ketika aku dan teman-teman ke Banyubiru bersama Vina, kakaknya Vanya dan juga Ida. Pikiranku kacau, hatiku hancur dan perasaanku tidak karuan diliputi panasnya terik matahari yang menyengat tubuhku.
Dua minggu setelah kejadian itu tepatnya di bulan puasa Derry sakit. Vina mengajak aku ke rumahnya Derry tapi dia takut sama ortunya. Aku pun yang membujuk ortunya agar memberi izin dan akhirnya ortunya memberi izin. Malam sebelum ke rumahnya Derry seperti biasa aku setiap malam di bulan puasa menginap di masjid bersama teman-teman. Tapi malam itu aku harus mendengar kata-kata yang membuat hatiku panas. Rendy dan Akhmad bilang sama aku kalau Vina itu tidak suka sama aku dan mereka bilang aku jangan terlalu maksain Vina untuk suka sama aku. Tapi aku pun menyanggah perkataan mereka dan aku bilang mana buktinya kalau Vina itu tidak suka sama aku. Dan mereka pun bilang sama aku untuk tanya langsung sama Vina pada saat dia ke rumah Derry.
Keesokan harinya sesuai rencana aku, Vina, Vanya, Ida dan teman-temanku ke rumah Derry. Kami semua pun langsung masuk dan dipersilahkan duduk oleh Derry. Dan keadaan Derry juga sudah agak mendingan kami semua pun bercanda saling tertawa. Disela keramaian canda tawa itu temanku Akhmad pun menghentikan tawa mereka dan dia bilang sama semua yang ada disitu kalau aku mau bilang sesuatu. Semua pun terdiam, aku langsung bilang kalau aku mau semua mendengar aku. Aku pun tertuju pada Vina dan aku bertanya kenapa akhir-akhir ini dia diam tanpa bicara sama aku tapi sebelum dia menjawab aku mengutarakan perasaanku sama dia. Aku bilang sama dia kalau aku itu memang suka sama Vina tapi aku tidak pernah maksa dia untuk suka sama aku dan aku sudah tahu semua yang terjadi antara dia sama Derry tapi aku hanya ingin dia bersikap sewajarnya sama aku. Sambil menangis dia menjawab bahwa sejak kedatangan aku ke rumahnya Vina, Ibunya sering marah gara-gara aku. Dan aku bilang sama dia kalau aku itu sudah menganggap dia dan keluarganya seperti keluargaku sendiri dan aku berjanji akan membuat Ibunya tidak marah-marah lagi sama Vina asal dia mau bersikap sewajarnya sama aku. Ditengah pembicaraan itu datanglah Ayahnya Vina mengajak Vina dan kakaknya Vanya untuk pulang.
Hari berikutnya aku pun berharap kalau Vina mau berubah dan bersikap lebih baik dari sebelumnya. Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi dan semuanya sama seperti sebelumnya. Tapi aku tidak pernah memenyerah aku yakin suatu saat pasti semuanya akan terjadi. Kehidupan cintaku yang tulus membawa aku menuju sebuah kebenaran yang terus terkuak. Pelan tapi pasti semua kebohongan yang terjadi sebelumnya seakan terasa nyata dan terkuak semua kebenarannya. Musuh dalam selimut yang selama ini menjadi parasit seakan tak lagi mampu menghancurkan cintaku, semua kebenaran dan kebesaran cinta seakan mengalahkan kemunafikan dalam kehidupanku.
Lagi-lagi ujian kembali mendera, mungkin orang yang selama ini mencoba menghancurkan cintaku sudah pergi dan tak mungkin lagi mengusikku. Ternyata tak mudah untuk meluluhkan hati seorang Vina. Dia mungkin sudah tahu semua yang dikatakan oleh teman-temannya tentang aku tidak ada yang benar tapi itu sepertinya sulit untuk meyakinkan Vina bahwa cintaku benar-benar tulus. Aku sempat merasakan cintaku tumbuh dalam diri Vina sehingga aku mencoba meyakinkan dia. Tapi lagi-lagi usahaku harus menghadapi rintangan untuk kesekian kalinya. Kali ini datang dari saingan terbaruku yang merupakan cowoknya Vina namanya Rico. Diantara hubungan ini kembali muncul orang ketiga yang mencoba menghancurkan cintaku yang selama ini aku bangun. Rina adalah salah satu teman dekatnya Vina, Rina inilah yang mendukung hubungan Vina dengan Rico. Tapi jujur aku tidak pernah setuju dengan hubungan ini bukannya karena Rico sainganku tapi karena gelagatnya yang sok dan aku merasa Vina hanya sebagai mainan Rico. Aku pun mencoba meyakinkan Vina kalau Rico itu bukan cowok yang baik tapi dia tak menghiraukan aku dia lebih mendengar kata temannya yang menurut aku itu tidak benar. Vina pun pernah beberapa kali putus nyambung dengan Rico tapi karena kepiawaian seorang Rina hubungan mereka terus bertahan.
Satu tahun kemudian Vina lulus sekolah SMP dia pun mengikuti kakaknya melanjutkan studinya ke SMK. Disini aku mulai agak lega karena Vina tidak sewilayah lagi dengan Rico mungkin bisa dibilang karena tidak mungkin lagi Rico bisa mendekati Vina karena letak sekolah mereka yang berjauhan. Ternyata perkiraanku meleset apa yang aku duga salah justru hubungan mereka semakin lengket. Hal ini aku ketahui dari temannya Vina tanpa sengaja aku berkenalan dengan salah satu teman Vina di SMK namanya Fitri bisa dibilang dia yang berjasa dalam hidupku. Aku mencoba mengenal Fitri, dia memang bukan asli Pasuruan tapi dia dari Bandung. Tubuhnya agak gemuk, wajahnya agak lumayan manis tapi itu tidak penting buat aku. Yang terpenting dia baik mau membantu aku semua informasi aku dapat dari dia. Sampai suatu hari Vina terpergok aku dengan Rico waktu pulang sekolah. Hal itu tanpa sengaja karena waktu itu aku janjian ketemu sama Fitri. Aku mencoba menyamar merubah diriku dan penampilanku ternyata tidak semudah itu bisa mengelabuhi Vina. Dia sudah paham tentang diriku padahal aku mencoba untuk tidak terlalu dekat denga Vina.
Setelah kejadian itu Fitri tidak pernah lagi bisa dihubungi aku tidak tahu apa yang terjadi sama Fitri. Informasi tentang Vina pun semakin sulit aku dapat karena tidak ada lagi yang bisa aku korek informasinya. Tapi aku tidak pernah memenyerah terus aku berusaha tanpa aku merasa lelah. Kegigihan usahaku ternyata membuat Rico merasa tersaingi dan dia pun mencoba melemahkan usahaku. Kejadian tak terduga aku nyaris saja dikeroyok sama Rico, kejadian ini terjadi dua kali. Kejadian pertama terjadi ketika waktu itu Vina sedang sakit. Tepatnya di bulan Agustus ketika sedang menonton kegiatan Agustusan di depan rumahnya Vina. Seorang teman Rico mengajak aku ke lapangan untuk menemui Rico dan kami pun bercekcok mulut dan nyaris saja aku dikeroyok Rico dan teman-temannya. Tapi ternyata Tuhan masih sayang sama aku tidak terjadi sesuatu apapun pada diriku. Kejadian kedua tak lama selang beberapa bulan kemudian. Kali ini dia sendirian ketika itu aku sedang menonton atraksi di lapangan Rico menyuruh anak kecil memanggilku. Kali ini aku tidak mau kalah dia sempat tanya macam-macam sama aku. Aku pun sempat emosi dan membentaknya aku tidak takut walaupun terjadi sesuatu sama aku. Rico pun akhirnya minta maaf sama aku dan aku bilang padanya lain kali semua masalah itu harus ada penyelesaian dengan kepala dingin dan jangan mudah percaya dengan orang lain. Rico terdiam dan hanya bisa minta maaf dan setelah kejadian itu dia tidak pernah menemui aku lagi.
Beberapa bulan kemudian setelah kejadian itu aku mendengar kalau Vina dan Rico benar-benar putus. Aku pun terus berusaha dan meyakinkan Vina bahwa aku masih benar-benar sayang sama dia. Ketika itu aku sedang berusaha mencari kerja karena aku harus berfikir usiaku sudah tidak mudah lagi 21 tahun aku harus mulai memikirkan masa depanku. Awal Januari 2008, aku mulai mencari kerja dan aku ditawari saudaraku bekerja di tempatnya gajinya tidak besar sih tapi lumayan bisa buat memenuhi kehidupan keluargaku. Kehidupanku seakan berubah Vina yang dulunya sulit aku dekati dia sudah mau aku antar berangkat sekolah. Sebelum aku berangkat kerja aku sering mampir dulu ke rumahnya Vina untuk jemput dia sekolah. Luar biasa besar sekali keagungan Tuhan kehidupanku lebih baik. Hanya beberapa bulan berselang aku di tawari kerja temanku di sebuah warnet di daerah perumahan kesempatan itu pun tidak aku sia-siakan aku menerima tawaran tersebut dan mulai bekerja lebih giat. Di warnet aku merasa perhatianku sama Vina mulai berkurang. Hampir tidak ada waktu buat Vina semua tersita oleh pekerjaanku mungkin hanya pagi hari aku jemput dia sekolah setelah itu tidak ada waktu lagi buat dia. Pekerjaanku kali ini tidak ada hari libur senin sampai minggu mulai dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam. Bayangkan semua itu terjadi setiap hari sampai akhirnya sekitar pertengahan bulan Juni aku diterima kerja di PIER tepatnya di PANASONIC. Vina juga yang memberi support aku ketika aku sedang tes di Panasonic.
Di kehidupanku yang mulai aku rasa nyaman ini muncul orang ketiga kali ini bukan dari Vina tapi dari kehidupanku. Orang yang dulu pernah aku sayangi dan aku cintai muncul dalam kehidupanku kembali. Amel yang dulu pernah menolak cintaku kali ini hadir dengan perhatian yang begitu besar sama aku. Aku pun bingung dengan semua ini kenapa semuanya terjadi begitu cepat dan aku sempat tidak percaya dengan semua kejadian-kejadian yang menimpaku. Dan di Panasonic juga aku sempat juga melihat sosok yang yang sudah tidak begitu asing buat aku ternyata dia adalah mantanku waktu SMA dulu Khalimah. Pikiranku pecah dan aku mulai berfikir dan berfikir lagi. Aku semakin bingung dengan semua yang terjadi sama aku. Tapi aku masih berharap sama Vina dan aku mempertimbangkan semua yang terjadi sama aku.
Beberapa bulan aku di Panasonic membuat kehidupanku berubah aku mulai berfikir luas. Aku sempat suka dengan rekan kerjaku tapi dia menolakku. Ternyata hal itu tidak membuat aku jera. Sampai suatu saat aku mengenal seseorang yang kini menjadi sahabatku. Dia cantik imut aku sudah mengenalnya sejak di training kerja pertama kali masuk kerja. Aku pun mulai mengenal dia lebih jauh. Namanya Ririn, dia baik dan perhatian sama aku. Hubungan kita semakin dekat melebihi dari seorang teman. Dia juga sering cerita sama aku. Dia juga sempat meminta pertimbanganku ketika dia ditembak seseorang. Aku pun memberi pertimbangan sesuatu sama dia. Dia tidak menghiraukan aku tapi aku tidak merasa kecewa kami malah semakin dekat hingga akhirnya aku jatuh cinta padanya. Tapi semua itu terlambat dia sudah terlanjur sudah punya pacar. Aku tidak pernah menyerah dan aku mencoba tembak dia dan hasilnya bisa ditebak dia menolakku tapi ternyata hal ini justru menambah kedekatan persahabatan kami. Dan sepertinya hubungan dia dengan pacarnya sulit dipisahkan.
Persahabatan aku dengan Ririn juga sulit untuk dipisahkan. Karena kedekatan persahabatan kami seperti kepompong. Teman-teman pun mengira kami pacaran tapi itu tidak. Dia sudah benar-benar menjadi sahabatku sahabat terbaik dalam hidupku. Walaupun begitu aku sudah tidak mau berharap tentang apa yang terjadi sama aku dan Ririn dulu. Tulusnya cintaku sama Vina tidak bisa tergantikan tapi bukan berarti aku tidak membutuhkan seorang sahabat atau teman. Hari demi hari aku lewati kehidupanku semakin tak menentu tak ada perasaan bahagia dalam diriku. Tapi kali ini aku tidak sendirian aku mempunyai seorang sahabat yang masih bisa mengerti aku.
Tanpa terasa hampir setengah setahun aku bekerja di Panasonic perasaanku sama Vina semakin terasa dalam tapi cintaku kali ini benar-benar diuji. Kesalahan besar dalam hidupku yang seharusnya tidak perlu terjadi. Aku tergoda oleh bujuk rayuan orang yang dulu pernah aku sayangi, Amel membuat aku harus melakukan kesalahan yang tanpa kusadari menghancurkan aku sendiri. Perhatian yang lebih dan kata-kata manis Amel telah menodai ketulusan cintaku sama Vina. Aku dan Amel jadian, aku tidak tahu kenapa semua terjadi begitu cepat. Aku juga tidak menyangka kenapa aku bisa menerima Amel menjadi pacarku. Karena kesibukan aku kerja ternyata pacaran itu tak berarti buat aku. Aku dan Amel jarang ketemu, aku sendiri juga tidak terlalu mencintai Amel sepenuhnya. Beberapa kali juga dia sering meminta aku mengakhiri hubungan pacaran ini. Tapi aku berusaha untuk mempertahankan hubungan ini. Sahabatku Ririn memberi saran aku supaya aku dan Amel bisa ketemu dan kesempatan itu datang waktu aku sedang libur kerja. Aku kerumahnya dan dia juga sepertinya senang dengan pertemuan itu. Aku pun ngobrol dengan dia untuk meluapkan perasaan kangen antara aku dan dia. Dan tak terasa aku pun seharian dirumah Amel. Hari menjelang sore aku berpamitan pulang dan dia juga sepertinya sudah senang seharian sama aku. Setelah pertemuan itu kami pun sering ketemu walau tidak setiap minggu.
Tidak terasa kontrak kerjaku hampir habis. Hampir satu tahun sudah aku bekerja di Panasonic dan aku merasa sepertinya kontrak kerjaku tidak diperpanjang. Aku pun berusaha untuk bersikap lebih baik siapa tahu aku diperpanjang karena aku masih belum punya pandangan lain setelah keluar dai Panasonic. Aku juga tulang punggung keluargaku, bebanku begitu berat ayahku sudah tidak bekerja lagi aku harus menghidupi keluargaku. Aku harus bisa mempertahankan pekerjaanku dan aku berusaha untuk memberi yang terbaik untuk keluargaku dan orang-orang yang aku sayangi. Tapi ternyata perusahaanku tempat aku bekerja sedang terkena imbas krisis global. Akibatnya tidak hanya aku hampir sebagian besar karyawan kontrak harus habis kontrak lebih awal. Kehidupanku kembali diuji disini aku dan sahabatku Ririn termasuk yang harus mengakhiri kontrak lebih awal. Aku pun sempat pusing karena bagaimana nanti aku harus menghidupi keluargaku. Bagaimana pula nasib adik-adikku maklumlah adikku masih kecil-kecil.
Hubungan aku dengan Amel pun sepertinya terancam bubar kehidupanku sepertinya kembali berubah drastis. Aku juga bilang sama Amel tentang semua yang terjadi sama aku dan dia pun sepertinya bisa mengerti aku. Aku juga bilang sama Vina di hari terakhir aku kerja nanti aku mau dia bilang sama ortunya tentang sebenarnya yang terjadi antara aku dan dia. Vina juga janji sama aku akan bilang sejujurnya kalau dia itu sebenarnya tidak mencintai aku dia cuma menganggap aku sebagai kakaknya tidak lebih dari itu. Aku pun merubah sikapku dengan keluarga Vina aku lebih banyak bersikap diam dan aku merasa sepertinya di hari aku habis kontrak semuanya yang aku miliki akan sirna. Sikap aku yang berubah membuat ortunya Vina kebingungan apa yang sebenarnya terjadi denganku. Ibunya menanyakan sama aku apa yang terjadi dan aku hanya menjawab nanti dihabis kontrak Vina akan menceritakan semuanya. Ternyata Ibunya penasaran dengan kata-kataku itu dan menanyakannya sama Vina.
Dua minggu sebelum kontrak kerjaku berakhir semuanya terasa seakan-akan kehidupanku juga berakhir. Sikap Vina juga sudah berubah mungkin waktu itu hanya Ririn yang bisa mengerti aku. Seminggu kemudian Ibunya Vina kembali bertanya sama aku dan aku hanya bilang nanti semuanya akan jelas pada waktunya. Dan ternyata Vina sudah bilang semua sama Ibunya, Ibunya juga cerita sama aku dan hal itu bukan berarti aku harus menjauhi keluarga Vina setidaknya aku bisa menjadi kakak yang baik buat Vina. Aku pun penasaran apa yang dibilang Vina pada Ibunya dan dia bilang semuanya yang terjadi antara aku dan dia. Dan dia juga bilang kalau dia hampir saja diusir sama Ibunya karena dia tidak mau menuruti kemauan ibunya untungnya Ayahnya mencegah kejadian itu. Aku pun seakan tidak percaya mendengar hal itu aku merasa bersalah sama Vina karena telah menghancurkan keluarga Vina. Aku mencoba meminta maaf sama Vina dan aku siap melakukan apapun untuk menebus kesalahanku dia sendiri juga bingung apa yang harus aku perbuat.
12 Juni 2009 hari dimana kontrak kerjaku berakhir dan mungkin kehidupanku juga berakhir. Ririn mencoba menghibur aku bahwa semuanya belum berakhir dan mungkin ini ujian buat aku. Aku masih punya Amel tapi aku tidak berharap banyak sama dia karena mungkin aku selama ini tidak pernah memperhatikan dia padahal dia begitu perhatian sama aku. Aku juga harus kehilangan teman-temanku yang selama ini menghibur aku. Satu hari sebelumnya aku dan teman-teman makan bersama sebagai hari perpisahan aku dan rekan-rekan kerjaku. Semuanya begitu indah dengan kebersamaan yang tak mungkin aku lupakan sampai kapanpun.
Beberapa hari kemudian hari-hariku aku jalani dengan kesepian hanya Ririn saat itu yang menjadi sahabat terbaikku dia yang selalu memberi support aku. Setiap aku merasa kesepian aku ke rumah Ririn untuk menghilangkan kesepianku dan setiap ke rumah Ririn semua kesepianku terasa hilang. Aku dan Ririn begitu dekat kita selalu bercanda bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa sama aku. Aku pun berencana keluar dengan Ririn untuk menghilangkan kejenuhan dan dia pun mengajakku ke Pemandian Alam Banyubiru tapi dengan syarat kita harus membawa pasangan masing-masing.
Selang beberapa hari kemudian aku pun mengajak Amel jalan-jalan dan sekalian memperkenalkan sama sahabatku Ririn. Hari itu aku menjemput Amel ke rumahnya. Di Pemandian Banyubiru Ririn sudah menungguku bersama cowoknya dan aku memperkenalkan Amel sama Ririn. Kami pun saling mengobrol satu sama lain dan sepertinya tidak ada rencana untuk berenang. Tak lama kemudian kami berniat mencari makan di tempat yang mungkin jauh dari tempat itu. 
Setelah kejadian itu aku dan Amel tidak bertemu lagi dan mungkin itu adalah pertemuan terakhirku dengan Amel. Setelah itu, tepatnya satu bulan kemudian aku berusaha untuk menghubungi Amel tapi hpnya jarang sekali aktif. Aku berusaha mencari informasi tentang dia tapi tidak ada hasilnya. Ketika aku mencoba kembali ternyata hpnya aktif aku bertanya sama dia apa yang terjadi sebenarnya dia menjawab kalau dia sering diganggu nomer yang tidak dikenal. Aku pun berusaha untuk bersikap lebih tegas sama dia. Ketika aku mencoba bertanya sama dia apakah dia masih sayang sama aku dia menjawab dia sudah berusaha untuk sayang sama aku tapi dia tidak bisa. Aku merasa dipermainkan oleh Amel saat itu aku sempat meminta saran sama Vina apa yang harus aku lakukan. Vina memberi aku sebuah jalan yang memang itu pantas aku berikan untuk Amel yang selama ini mempermainkan aku. Aku putuskan hari itu untuk mengakhiri hubunganku dengan Amel. Kejadian itu terjadi tanggal 16 Juli 2009 satu hari sebelum terjadinya ledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Aku yang merasakan hancurnya hatiku bisa aku samakan seperti apa yang terjadi saat kedua hotel tersebut meledak.
Setelah kejadian itu aku benar-benar merasa aku sudah kehilangan segalanya. Aku hanya bisa meratapi semuanya yang terjadi sama aku. Vina yang masih aku harapkan sepertinya juga tidak pernah memberi aku kesempatan untuk membahagiakan dia. Aku hanya menunggu keajaiban cinta dan dewa penolong dalam hidupku yang sepertinya sudah tak berarti lagi. Aku pun berusaha mengirim lamaran kesana kemari tapi hasilnya masih nol. Akhirnya aku memutuskan mencari kesibukan dengan mengikuti kegiatan Agustusan. Dan ternyata itu efektif buat aku dan hasilnya hampir tidak ada waktu untuk memikirkan cinta lagi. Karena padatnya kegiatan tersebut akhirnya aku sakit mungkin karena kecapaian tapi ternyata membuat aku berfikir lebih luas. Vina pun tidak pernah membalas sms aku lagi. Aku mencoba mencari tahu dan meminta maaf sama Vina kalau memang aku ada salah. Hal itu terus aku lakukan tapi hasilnya dia masih diam tak ada alasan apapun kenapa dia seperti itu.
Bulan Suci Ramadhan telah tiba aku mencoba untuk meningkatkan ibadahku mumpung aku lagi banyak waktu. Usahaku tidak pernah surut untuk mencoba merebut hati Vina lagi. Aku bertanya sama kakaknya Vanya dan Vanya bilang Vina lagi tidak punya pulsa jadi tidak bisa balas smsku. Aku mencoba memberi yang terbaik buat Vina dan lagi-lagi aku mencoba meminta maaf sama dia dan hasilnya dia memaafkan aku dan akan bersikap wajar sama aku tapi bukan berarti dia memberi tempat yang lebih buat aku. Aku pun berjanji sama Vina kalau sampai ortunya menganggap sikapnya sama aku berlebihan maka aku yang harus tanggung jawab. Memang tidak mudah untuk mendapatkan cinta seseorang semua itu membutuhkan pengorbanan. Cerita cintaku belum berakhir dan pastinya semua usaha pasti mendapatkan hasil. Bagaimanakah akhir kisah ini tunggu kisahku selanjutnya ya!.

7 komentar:

Unknown mengatakan...

Mbulet ae ceritane, ni intinya nyeritain si vina toh? Ya maaf, menurut aku sih bener kata temen kamu. Kamu terlalu maksain cinta sama vina, biarin aja semua berjalan apa adanya. Toh kalo jodoh juga g bakalan kemana... Aku aja pernah disakiti orang, bahkan jauh lebih sakit dr yg kamu rasain... Ni buktinya aku baik2 saja, dan aku menemukan seseorang yg jaaauuuuhhh lebih baik dari dia. Jangan nyerah pren.... Biarin aja berjalan apa adanya, OK....

Anonim mengatakan...

Tiada hidup tanpa kegagalan, kekalahan, dan kejatuhan. Air sungai menuju laut melewati jalan yang berliku. Berdirilah tegak kembali. Jangan memandang ke belakang, masa lalu telah berlalu. Hidup berjalan terus....
inget cinta datang dan pergi, sampai kpnpun itik takkan jadi angsa, sampai kapanpun cinta tak mungkin dipaksa, mungkin sudah saatnya cinta itu pergi....
SEMANGAT-SEMANGAT......!

Anonim mengatakan...

Bener kata talhita, kisah nyata yang cukup mbulet. tp tetep q salud ma u. coalnya satu2nya tmn q yang pantang menyerah.
q akan lebih salud lagi kalo u cerita molai u lahir. pasti lebih seru deh.

Berita Liga Indonesia mengatakan...

Ya mang klo qt tu perlu cinta n cinta tu akan datang dan pergi gitu aja. Tapi satu hal buat q yang selalu q pegang dalam hidup. Hidup hanya sekali cinta juga sekali. aku dah coba untuk membuka hati yang lain tapi hasilnya kalian liat sendiri. Belakng2nya juga kecewa.
Untuk sukur usulnya bisa aq pertimbangan ntar tak ingt2 lagi cerita q mulai dari lahir. Thank's semua dah komentarn q tanpa kalian q bukan apa2.

Unknown mengatakan...

Beuh... Cerita dr lahir??? Wah bisa sebulan tuh bacanya.. ^_^
Walah Srul, perasaan tu g semua kamu ceritain. Katanya suka mulai dr sekolah, tp buktinya cerita "......." (g enak nyebutin namanya) gak kamu ceritain. Ada beberapa hal yg seharusnya g perlu diceritain detail di cerita kamu tu. Yah menurut aku sih itu privacy dan gak seharusnya kamu ceritain..

Berita Liga Indonesia mengatakan...

Ya biar org tuu tau q tuh orgx g sk rahasia2an jd semua tak ceritain

Berita Liga Indonesia mengatakan...

Siapapun yang telah menyalahgunakan blog ini aku berharap cepat sadar jika tidak biar Allah yang membalas